Berita
Beranda / Berita / Pemprov Sultra: Tidak Ada Upaya Menghalangi Kerja Wartawan Staf Pengawal Hanya Cegah Pemandangan Tidak Elok Dari Jurnalis

Pemprov Sultra: Tidak Ada Upaya Menghalangi Kerja Wartawan Staf Pengawal Hanya Cegah Pemandangan Tidak Elok Dari Jurnalis

KENDARI, (TEROPONGSULTRA.NET) Menanggapi pemberitaan di sejumlah media yang merespon proses wawancara Gubernur Sulawesi Tenggara dengan jurnalis seusai acara “Akad Massal KUR 800.000 Debitur Penciptaan Lapangan Kerja dan Peluncuran Kredit Program Perumahan” di Aula Bahteramas Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara, Selasa (21 Oktober 2025),

Beberapa hal perlu kami sampaikan:

1. Bahwa seluruh jajaran Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara sangat menghargai dan menghormati kerja-kerja jurnalistik yang dijalankan secara profesional dan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik.

2. Dinamika yang terjadi dalam proses wawancara Gubernur dengan jurnalis
kronologis dapat kami sampaikan sebagai berikut:

Massa Desak Gakkum LHK Kendari Hentikan Aktivitas PT Toshida Indonesia

1) Proses wawancara berlangsung dengan lancar hingga wawancara dinyatakan
selesai berdasarkan tema acara.

2) Lalu salah seorang jurnalis bertanya kepada Gubernur tentang hal lain terkait
pengangkatan pejabat yang diberitakan pernah bermasalah hukum. Gubernur
menanggapinya dengan tersenyum dan tidak memberikan komentar. Selanjutnya,
Gubernur melangkah, yang menjadi sinyal bahwa beliau telah mencukupkan
wawancaranya, dan dengan demikian staf pengawalan yang mendampingi beliau
turut melangkah mendampinginya.

3) Jurnalis yang bersangkutan masih berusaha meminta tanggapan Gubernur
sehingga berupaya untuk mendekati dan merangsek (mengutip istilah yang
digunakan AJI Kendari dan IJTI Sultra dalam Siaran Pers-nya), sehingga terhalang oleh tubuh para staf pengawalan, dan disampaikan bahwa wawancara dinyatakan
cukup dan sudah selesai.

3. Berdasarkan kronologi tersebut di atas, sama sekali tidak ada upaya untuk
menghalang-halangi kerja wartawan dalam memperoleh informasi maupun tindakantindakan yang mengarah pada aksi kekerasan. Staf pengawalan hanya mencegah pemandangan yang tidak elok atas upaya “mendekati dan merangsek” yang dilakukan oleh jurnalis, saat narasumber (dalam hal ini Gubernur) tidak berkenan lagi memberikan tanggapan.

4. Dalam rangka mewujudkan proses jurnalistik yang imparsial, kami mendorong dan mendukung penuh relasi antara jurnalis dengan narasumber yang dilandasi dengan rasa saling menghormati dan menghargai.

Dugaan Pelanggaran PT Toshida Indonesia, Mahasiswa Desak APH Bertindak

5. Siaran Pers ini adalah Hak Jawab yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sulawesi
Tenggara untuk mewujudkan iklim jurnalisme yang sehat, dimulai dari pemberitaan yang berimbang (cover both side).

Diberitakan sebelumnya Seorang wartawan bernama Fadli, jurnalis Metro TV (stringer) mendapatkan kekerasan oleh dua ajudan Gubernur Sultra Andi Sumangerukka saat wawancara klarifikasi seputar pelantikan mantan narapidana korupsi Aswad Mukmin sebagai kepala seksi di lingkungan Dinas Cipta Karya Pemprov Sultra.Fadli dihalangi, didorong dan handphone-nya yang digunakan sebagai alat liputan dipukul ajudan Gubernur Sultra berambut panjang.

‎Kejadian bermula ketika Fadli beberapa wartawan, di antaranya Andi May (SCTV Kendari), Akbar Fua (Liputan6.com) Krismawan (Indosultra.com) Ahmad (Nawalamedia) berada di Aula Bahteramas kantor Gubernur Sultra menghadiri penyerahan bantuan KUR terhadap 800 ribu pelaku UMKM yang diikuti secara virtual, Selasa (21/10/2025) sore.
Usai kegiatan berlangsung, Fadli dan beberapa wartawan bersiap melakukan wawancara doorstop depan pintu keluar Aula Bahteramas.Gubernur Sultra kemudian menghampiri wartawan dan melayani sejumlah pertanyaan terkait penyaluran bantuan KUR yang juga diberikan kepada pelaku UMKM di Sultra. Saat itu, wawancara berlangsung normal.

Setelah tak ada lagi tanya jawab terkait UMKM, Fadli mengajukan pertanyaan terkait pelantikan pejabat eselon IV berstatus mantan terpidana koruptor yang dilantik oleh Gubernur Sultra sendiri.

‎Menurut penuturan Fadli, awalnya Gubernur Sultta merespons santai dan sempat tertawa kecil, serta kelihatan ingin menjawab pertanyaan itu. Tapi tiba-tiba, dua ajudan gubernur datang dan mendorong Fadli menjauh dari Gubernur Andi Sumangerukka.

‎ “Tiba-tiba ajudan datang, mendorong saya agar menjauh dari gubernur. Sejurus dengan itu, datang lagi satu ajudan lain berambut gondrong dan bermasker hitam juga ikut menghalangi dan melarang kami melanjutkan wawancara,” ujar Fadli.

Ketika mencoba kembali mendekat dan merangsek mendekati Gubernur Andi Sumangerukka untuk wawancara, ajudan tersebut terus mendorong bahkan memukul ponsel yang digunakan meliput.

‎ “Saya bilang, kenapa halangi saya? Tapi ajudan itu menjawab, ‘sudah cukup’. Gubernur saat itu langsung pergi seolah hanya membiarkan ajudannya menghalang halangi saya,” kata Fadli.

‎Insiden ini terjadi di hadapan sejumlah wartawan lain yang juga menyaksikan bagaimana upaya klarifikasi Fadli terkait pelantikan mantan koruptor tiba-tiba dihentikan secara paksa.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement