KENDARI(TEROPONGSULTRA.NET) Dua ajang olahraga nasional bergengsi, Pekan Olahraga Nasional (PON BELADIRI) di Kudus, Jawa Tengah (23-25 Oktober 2025) dan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) di Jakarta 2025, berakhir dengan rapor merah bagi kontingen Karateka Sulawesi Tenggara (Sultra).
Hasilnya sama gagal menyumbangkan medali, sebuah kegagalan yang memicu reaksi keras dari internal organisasi.
Menyikapi hasil minor ini, Sensei Rasyid Kepala Pelatih Forki Sultra yang mengaku tidak dilibatkan dalam kedua kegiatan nasional tersebut, memberikan pandangan tajam.
Menurutnya, akar masalah kegagalan bukan terletak pada kesiapan atlet maupun program latihan. Menurut pandangan saya sebagai pelatih kepala yang tidak pernah dilibatkan dalam 2 kegiatan nasional tersebut melihat kegagalan ini bukan akibat ketidaksiapan atlet atau pelatih serta program latihan, tetapi dari manajemen pengelolaan Pengprov Forki Sultra yang tidak transparan ujar Rasyid.
Ia menyoroti manajemen yang dianggap tidak sehat, mulai dari proses perekrutan atlet hingga pemberangkatan kontingen. “Dari perekrutan atlet sampai pemberangkatan semua ditutup tutupi,” tambahnya.
Rasyid menekankan bahwa organisasi seharusnya menjunjung tinggi prinsip kolaborasi, namun hal berbeda terjadi di kepengurusan FORKI Sultra periode 2025-2029.
“Semua keputusan diambil sendiri tanpa ada rapat atau musyawarah seolah-olah Forki ini milik pribadi,”kesalnya
Sensei Rasyid membandingkan dengan daerah lain yang sukses, menegaskan bahwa kunci keberhasilan adalah kerja sama yang baik antar sesama pengurus, bukan semata kehebatan individu.
”Faktor keberhasilan itu bukan di ukur atau dilihat dari kehebatan atlet, pelatih atau ketua forki, tetapi keberhasilan itu diraih karena adanya kerja sama yang baik antara sesama pengurus Forki
Namun Kenyataan di lapangan, menurut Rasyid, berbanding terbalik dengan janji perbaikan yang pernah diucapkan Ketua FORKI Sultra, di mana hanya sedikit pengurus yang bekerja, bahkan melibatkan orang luar.
”Ini menadakan Forki Sultra sudah tidak baik,” tegasnya
Puncak kekecewaan ini diluapkan dengan pernyataan keras, menuntut transparansi atau bubar. “Kami sempat berpikir kalau memang kami tidak dipercaya dalam kepengurusan silahkan bubarkan pengirus Forki sultra priode 2025-2029
Sensei Rasyid juga berharap agar Ketua Umum FORKI Sultra segera merubah manajemen. “Kami menghimbau kepada ketua umum FORKI Sultra agar merubah manajemen organisasi ke yang lebih sehat karena kita ketahui bahwa Forki milik semua pengurus,” tutupnya.


Komentar