Oleh: Muh Rafly Putmanal (C1D323100), Muh Yasin Fadhillah (C1D323098), Rian Oktavianus (C1D323118).
KENDARI,TEROPONGSULTRA-Saat ini ada banyak hal yang membuat wajah Kendari kini mengalami perubahan, salah satunya adalah dengan adanya coffee shop yang perlahan semakin berkembang. Hampir setiap bulan, ada saja tempat ngopi baru yang dibuka.
Papan nama coffee shop yang semakin sering ditemui dari jalan-jalan utama hingga sudut kota yang sebelumnya sepi, membuat aroma kopi kini menjadi penanda kehidupan baru. Bagi penikmat kopi, pilihan semakin beragam.
Namun di balik ramainya kursi dan cangkir yang tersaji, muncul pertanyaan yang lebih besar apa makna menjamurnya coffee shop bagi Kota Kendari?
Sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara, Kendari memainkan peran sentral dalam pergerakan ekonomi kawasan. Kota ini menjadi titik temu arus manusia, gagasan, dan modal.
Pertumbuhan coffee shop menjadi salah satu potret paling nyata dari dinamika tersebut. Fungsinya tak lagi sebatas tempat minum kopi, melainkan ruang kerja, ruang diskusi, hingga wadah tumbuhnya peluang ekonomi baru.
Di sebuah coffee shop di Kendari, seorang barista muda bercerita tentang perjalanannya. Ia sempat menghentikan kuliahnya karena keterbatasan ekonomi. Kesempatan bekerja di coffee shop memberinya penghasilan tetap.
Perlahan, ia bisa membantu keluarga dan mulai menyisihkan pendapatan untuk kembali melanjutkan pendidikan.
Kisah ini bukan satu-satunya. Di balik meja bar dan mesin kopi, banyak anak muda Kendari menemukan kembali harapan hidup. Bagi para pemilik usaha, membuka coffee shop bukan semata mengikuti tren. Ada upaya membangun bisnis yang berkelanjutan. Tenaga kerja direkrut dari masyarakat lokal, bahan makanan dipasok dari pelaku UMKM, dan produk-produk daerah mendapat ruang.
Dari satu titik usaha, perputaran ekonomi mengalir ke banyak sektor. Dalam skala kecil, coffee shop menjadi simpul penggerak ekonomi lokal yang berdampak lebih luas bagi Sulawesi Tenggara.
Meski demikian, tak sedikit yang memandang fenomena ini dengan skeptis. Menjamurnya coffee shop kerap dianggap sekadar euforia tren atau fomo. Namun realitasnya lebih kompleks. Sebagian memang hadir dan tenggelam bersama tren, tetapi sebagian lainnya tumbuh karena menjawab kebutuhan ruang sosial dan ekonomi.
Pembeda utamanya terletak pada nilai yang dihadirkan: apakah hanya ramai sesaat, atau benar-benar memberi manfaat bagi pekerja dan lingkungan sekitarnya.
Menariknya, coffee shop di Kendari menjadi ruang pertemuan lintas generasi. Tak hanya dipenuhi generasi Z, tetapi juga milenial hingga pekerja kantoran dan pelaku usaha. Di satu
meja, obrolan ringan bercampur diskusi serius.
Kopi menjadi medium yang menyatukan perbedaan usia dan latar belakang, menjadikan coffee shop sebagai ruang pertukaran gagasan dan pengalaman hidup.
Kini, coffee shop di Kendari telah melampaui fungsi awalnya. Ia menjelma menjadi ruang sosial, ruang ekonomi, dan ruang harapan. Di balik ramainya pengunjung, tersimpan cerita tentang anak muda yang kembali bermimpi, usaha kecil yang bertumbuh, dan kota yang terus bergerak mengikuti denyut zaman.
Menjamurnya coffee shop di Kendari mungkin berawal dari tren. Namun bagi banyak orang, ia telah menjadi pintu peluang. Dari secangkir kopi, roda ekonomi lokal terus berputar pelan, tetapi pasti.
Oleh: Muh Rafly Putmanal (C1D323100), Muh Yasin Fadhillah (C1D323098), Rian Oktavianus (C1D323118).


Komentar